Jl. Moh. Husni Thamrin No.1, Kemasan, Kediri Kota, Kota Kediri, Jawa Timur 64125, Kemasan, Kediri Kota, Kediri, Jawa Timur 64125 | (0354) 687201 | -

UNSUR DIDAKTIS DALAM BUKU SERIAL ALKITAB BERGAMBAR BIBLE MINI 3 MOONY 1 TAWARIKH-AYUB: DIKSI DAN ILUSTRASI

Selasa, 28 Juni 2022 12:24


UNSUR DIDAKTIS DALAM BUKU SERIAL ALKITAB BERGAMBAR BIBLE MINI 3 MOONY 1 TAWARIKH-AYUB: DIKSI DAN ILUSTRASI

UNSUR DIDAKTIS DALAM BUKU SERIAL ALKITAB BERGAMBAR BIBLE MINI 3 MOONY 1 TAWARIKH-AYUB: DIKSI DAN ILUSTRASI

oleh

Nathanael Eka Nugraheni, S.S.


1. Pengantar

            Sastra anak pada hakikatnya ditulis karena dapat memberikan kesenangan dan pemahaman kehidupan (Nurgiyantoro, 2013:3).  Sastra anak dapat berwujud lisan dan tulis. Sama seperti sastra biasa atau sastra pada umumnya, dalam sastra anak juga dikenal istilah genre. Menurut Mitchell (via Nurgiyantoro, 2013:13) genre menunjuk pada pengertian tipe atau kategori pengelompokkan karya sastra yang biasanya berdasarkan atas stile, bentuk, atau isi.

            Menurut Lukens (via Nurgiyantoro, 2013:15) ada enam genre sastra anak, yaitu realisme, fiksi formula, sastra tradisional, puisi, dan nonfiksi yang masing-masing masih dapat diuraikan lagi. Secara tidak langsung sastra anak memberikan kontribusi pada perkembangan anak selaku pembacanya. Semua genre sastra anak memiliki nilai-nilai yang baik bagi anak-anak, meliputi nilai personal dan nilai pendidikan. Nilai personal meliputi perkembangan emosional anak, perkembangan intelektual anak, perkembangan imajinasi anak, pertumbuhan rasa sosial anak, dan pertumbuhan rasa etis serta religius anak. Sementara itu, nilai pendidikan meliputi eksplorasi dan penemuan, perkembangan bahasa anak, pengembangan nilai keindahan pada anak, penanaman wawasan multikultural pada anak, dan penanaman kebiasaan membaca pada anak. Nilai-nilai tersebut disampaikan melalui unsur-unsur cerita, misalnya gaya bahasa dan ilustrasi.

            Gaya bahasa (style) merupakan aspek yang tergolong dalam kategori bentuk atau sarana yang digunakan untuk mengekspresikan gagasan. Gaya bahasa menentukan mudah atau sulitnya sebuah cerita dipahami, menarik atau tidaknya sebuah cerita yang dikisahkan, dan efek keindahan yang ingin dicapai (Nurgiyantoro, 2013:87). Gaya bahasa berkaitan dengan diksi atau pilihan kata yang digunakan dalam sebuah cerita atau bacaan. Kata yang digunakan dalam karya-karya sastra anak adalah kata-kata yang sederhana dan berada dalam jangkauan anak-anak. Sederhana yang dimaksud bersifat relatif karena latar belakang yang beragam dalam struktur masyarakat. Poin terpentingnya adalah bacaan yang ditujukan pada anak harus menggunakan bahasa yang sederhana dan dapat berfungsi untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak.

            Ilustrasi adalah gambar-gambar yang menyertai cerita dalam buku sastra anak (Nurgiyantoro, 2013:90). Dapat dikatakan bahwa indikator paling konkret untuk membedakan karya sastra anak dengan karya sastra pada umumnya adalah keberadaan ilustrasi yang menyertai teks verbal. Ilustrasi yang menyertai cerita dalam buku sastra anak memiliki daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Bagi anak yang sudah dapat membaca pun, buku bacaan tipis yang tidak memiliki ilustrasi sama sekali tidak menarik apabila dibandingkan dengan buku berilustrasi yang tebal.

            Berdasarkan ilmu psikologi perkembangan, dasar kepribadian seseorang terbentuk pada masa anak-anak (Gunarsa dan Gunarsa, 2003:3). Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembentukan kepribadian anak. Anak belum mampu memilih apa yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, peran orang tua dalam menyeleksi sesuatu yang akan bersentuhan dengan anak sangat diperlukan. Pemilihan bacaan yang tepat untuk anak juga harus diperhatikan oleh orang tua karena anak belum dapat memilah bacaan yang sesuai dengan porsinya, mengingat bahwa bacaan anak dapat menjadi salah satu faktor penentu kepribadiannya.

            Sebagai bahan bacaan, bahasa yang digunakan dalam Alkitab adalah bahasa yang tidak mudah dimengerti oleh anak-anak. Pada saat anak-anak mengikuti sekolah minggu di gereja pun, para guru sekolah minggu cenderung menceritakan beberapa kisah yang sama secara berulang-ulang. Akibatnya, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang hanya mengenal tokoh itu-itu saja dalam Alkitab dan hanya mengenal cerita-cerita tertentu pula. Diksi yang sukar dipahami serta konstruksi Alkitab yang hanya berupa tulisan tanpa gambar pada umumnya kurang menggugah rasa ketertarikan anak-anak. Semestinya ada alternatif lain yang dapat membuat anak senang membaca dan "mencintai" Alkitab tanpa mengesampingkan kebenaran-kebenaran di dalamnya.

            Buku serial Alkitab bergambar yang berjudul Bible Mini 3 Moony 1 Tawarikh-Ayub dapat digolongkan ke dalam sastra anak yang bergenre nonfiksi. Penggolongan ke dalam genre yang dimaksud didasarkan pada paparan-paparan di dalam buku cerita bergambar tersebut yang sesuai dengan fakta. Baik melalui ilustrasi maupun diksinya, buku-buku sastra anak dibedakan dari buku-buku sastra pada umumnya.

            Buku serial Alkitab bergambar yang berjudul Bible Mini 3 Moony 1 Tawarikh-Ayub bukan buku serial Alkitab bergambar yang pertama muncul di Indonesia. Akan tetapi, buku ini menambah khazanah pada bidang dimaksud sebab masih sedikit literatur semacam ini bagi anak-anak. Hampir semua buku serial Alkitab bergambar berwujud buku bergambar tanpa kata yang ditujukan pada anak-anak yang belum dapat membaca (usia balita). Oleh karena itu, para orang tua atau guru sekolah minggu harus menjadi "dalang" yang membuat buku bergambar tersebut bercerita.

            Pembahasan makalah ini berfokus pada pengaruh diksi dan ilustrasi buku serial Alkitab bergambar yang berjudul Bible Mini 3 Moony 1 Tawarikh-Ayub terhadap intelektual anak sebagai pembaca. Analisis diksi berkenaan dengan gaya bahasa yang digunakan untuk menarasikan cerita. Sementara itu, analisis ilustrasi berkenaan dengan gambar-gambar yang khas sehingga mudah diingat oleh anak. Hasil dari pembahasan ini berupa unsur-unsur didaktis yang tercermin melalui gaya bahasa dan ilustrasi.

 

2. Unsur Didaktis dalam Buku Serial Alkitab Bergambar Bible Mini 3 Moony 1 Tawarikh-Ayub: Diksi Dan Ilustrasi

            Unsur-unsur didaktis dalam Buku Serial Alkitab Bergambar Bible Mini 3 Moony 1 Tawarikh-Ayub ini tercermin melalui diksi (gaya bahasa) dan ilustrasi yang digunakan di setiap halaman. 

2.1 Diksi

2.1.1 Doa Daud

web

(hal. 17)

            Pada halaman tersebut dikisahkan Daud masuk ke dalam Kemah Tuhan. Daud berdoa, mengucap syukur atas kebaikan Tuhan yang telah memilihnya sebagai Raja Israel. Daud kemudian memohon agar Tuhan memberkati keturunannya. Dengan demikian anak cucu dan semua keturunannya dapat merasakah kasih dari Tuhan sama dengan yang Daud terima. Gaya bahasa yang digunakan di bagian ini mengajak anak sebagai pembaca untuk belajar berdoa bagi orang lain. Bagian ini juga menanamkan nilai kasih pada anak serta mendoakan orang lain.

2.1.2 Doa Salomo

web

(hal. 36)

            Salomo berdiri menghadap mezbah dan berlutut. Salomo mengangkat kedua tangannya serta menadahkan ke langit lalu berdoa agar Tuhan selalu melindungi Bait Allah. Salomo juga berdoa memohon pada Tuhan agar Tuhan berkenan mengampuni orang-orang yang mau mengaku bersalah. Dari bagian ini anak dapat menyadari bahwa orang-orang besar, seperti raja pun memiliki hati yang besar serta kasih yang besar. Daud dan Salomo dapat dijadikan teladan bagi anak untuk menyatakan kasih mereka kepada sesama, yakni dengan mendoakannya.

2.1.3 Kesetiaan Ayub

web

(hal. 101)

            Ayub tetap setia kepada Tuhan walaupun semua yang dia miliki diambil. Dia tetap menyembah Tuhan dan tidak berpaling pada yang lain. Berdasarkan narasi di bagian ini istri Ayub justru menyuruhnya mengutuki Tuhan karena setelah semua kesengsaraan yang dialami Ayub Tuhan juga membiarkan borok memenuhi tubuh Ayub sampai Ayub dikucilkan semua orang. Gaya bahasa yang digunakan di bagian ini secara tidak langsung mengajari anak untuk tetap setia kepada Tuhan apapun yang terjadi. Meskipun yang anak terima mungkin tidak sesuai dengan kehendak hatinya, anak harus tetap percaya dan berserah pada Tuhan. Ayub dapat sembuh dan semua milik kepunyaannya dikembalikan oleh Tuhan karena dia setia.

 

2.2 Ilustrasi

2.2.1 Pengenalan Silsilah Adam hingga Esau dan Yakub

web

(hal. 1)

        Pengenalan silsilah dari Adam hingga Esau dan Yakub diilustrasikan dengan gambar beberapa orang dengan ciri fisik yang berbeda-beda. Di belakang orang-orang tersebut terlihat bahtera besar sebagai tanda bahwa Nuh termasuk dalam bagian pengenalan silsilah ini. Dari ilustrasi bahtera besar tersebut anak-anak akan lebih mudah mengingat bahwa Nuh berada di dalam garis keturunan antara Adam hingga Esau dan Yakub karena pada umumnya anak-anak sangat familiar dengan cerita Nuh beserta bahteranya.

2.2.2 Pengenalan Keturunan Benyamin

web

(hal. 8)

            Pengenalan keturunan Benyamin diilustrasikan dengan gambar beberapa anak laki-laki. Ada satu anak yang membawa busur panah yang akan selalu mengingatkan anak selaku pembaca mengingat bahwa beberapa keturunan Benyamin adalah prajurit yang perkasa dan ahli memanah. Tulisan “Ono” dan “Gibeon” pada gedung serta “Lod” di atas gunung di belakang anak-anak tersebut menandakan bahwa keturunan Benyamin telah membangun kota-kota tersebut, yaitu Ono, Gibeon, dan Lod.

2.2.3 Daud Akan Membangun Istana dan Kemah Pertemuan

web

(hal. 15)

            Berdasarkan ilustrasi, anak sebagai pembaca akan memahami dan mengingat bahwa Daud adalah seorang raja. Ia memerintahkan orang-orang untuk membangun beberapa istana bagi dirinya serta Kemah Pertemuan untuk meletakkan Peti Perjanjian Tuhan di dalamnya.

2.2.4 Daud Menyiapkan Bahan untuk Membangun Rumah Tuhan

web

(hal. 22)

            Berdasarkan ilustrasi tersebut anak sebagai pembaca akan mudah mengingat bahwa Daud telah memesan kayu cemara Libanon, menyediakan banyak sekali bahan bangunan, mengumpulkan berton-ton emas, perak, perunggu, dan besi untuk pembangunan Rumah Tuhan.

2.2.5 Upacara Ibadat yang Diiringi Kecapi

web

(hal. 25)

            Melalui ilustrasi di atas anak sebagai pembaca akan mengetahui bahwa ada tiga orang yang dipilih oleh Daud dan pemimpin orang Lewi untuk menyampaikan pesan dari Tuhan dengan diiringi musik kecapi, gambus, dan sambal. Ketiga orang itu adalah Asaf, Heman, dan Yedutun. Anak dapat membayangkan bentuk alat musik yang digunakan untuk mengiringi pujian syukur kepada Tuhan sepanjang jalannya upacara ibadat tersebut dari ilustrasi.

2.2.6 Rumah Tuhan

web

(hal. 33)

            Melalui ilustrasi tersebut anak selaku pembaca dapat membayangkan bagaimana kira-kira bentuk Rumah Tuhan yang baru dibangun di Gunung Moria pada masa pemerintahan Salomo.

2.2.7 Salomo Memimpin Persembahan kepada Tuhan

web

(hal. 35)

            Berdasarkan ilustrasi tersebut anak sebagai pembaca dapat membayangkan situasi saat Salomo beserta rakyatnya menyanyikan puji-pujian syukur sambil mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan.

2.2.8 Yoas Diangkat Menjadi Raja

web

(hal. 53)

            Berdasarkan ilustrasi tersebut anak sebagai pembaca akan tahu bahwa Yoas diangkat menjadi raja saat masih sangat kecil. Pada bagian narasi disebutkan bahwa Yoas sudah diangkat menjadi raja saat usianya masih tujuh tahun.

2.2.9 Raja Uzia Dihukum Tuhan

web

(hal. 56)

            Pada awalnya Raja Uzia adalah raja yang sangat menaati perintah Tuhan. Ia selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan. Tuhan selalu memberikan kemenangan padanya sehingga namanya menjadi tersohor sampai ke berbagai wilayah. Akan tetapi, Raja Uzia menjadi sombong dan mulai melanggar perintah Tuhan. Tuhan mendatangkan suatu penyakit kulit yang mengerikan di dahi Raja Uzia. Melalui ilustrasi tersebut anak selaku pembaca mendapatkan gambaran mengenai penyakit yang ditimpakan Tuhan kepada raja yang sombong tersebut.

2.2.10 Perayaan Paskah di Rumah Tuhan

web

(hal. 60)

            Illustrasi tersebut dapat membuat anak sebagai pembaca mengetahui bagaimana perayaan Paskah pada masa tersebut. Melalui gambar dan narasi anak diberitahu bahwa perayaan Paskah dan menghormati Tuhan pada masa itu dilakukan dengan cara berkumpul dan mengadakan perayaan Roti Tidak Beragi selama tujuh hari berturut-turut.

2.2.11 Rakyat Yerusalem Membuang Undi

web

(hal. 87)

            Para pemimpin menetap di Yerusalem dan rakyat membuang undi undtuk menentukan satu dari setiap sepuluh keluarga yang harus tinggal di kota suci Yerusalem. Sementara itu, yang tidak terpilih harus menempati kota-kota lain selain Yerusalem. Melalui ilustrasi tersebut anak selaku pembaca dapat memahami bahwa yang dimaksud dengan “membuang undi” bukanlah membuang sesuatu, tetapi mengambil sesuatu untuk menentukan siapa yang yang berhak atas sesuatu. Dalam ilustrasi tersebut digambarkan bahwa rakyat membuang undi dengan batu yang ditata berjajar. Anak selaku pembaca akan lebih dapat menangkap maksud dengan melihat ilustrasi.

2.2.12 Ester Diangkat Menjadi Ratu

web

(hal. 91)

            Ester diangkat menjadi ratu menggantikan Ratu Wasti atas usul para penasihat raja. Ratu Ester atau adalah ratu yang sangat cantik, seperti yang digambarkan dalam ilustrasi di atas. Ratu Ester disukai, dikagumi, dan dikasihi banyak orang.

2.2.13 Pengenalan Tokoh Ayub

web

(hal. 100)

            Ayub beserta istri dan tiga anak perempuan serta tujuh anak laki-laki tinggal di Us. Mereka adalah keluarga oaling kaya di antara penduduk daerahnya. Ayub memiliki banyak budak, tujuh ribu ekor domba, seribu ekor sapi, dan lima ratus ekor keledai. Ilustrasi tersebut menggambarkan Ayub beserta istri dan ternak-ternaknya. Ayub adalah orang yang sangat taat pada Tuhan.

2.2.14 Ayub Diuji

web

(hal. 101)

            Suatu hari Tuhan menguji Ayub. Semua anak Ayub mati dan semua harta bendanya lenyap. Akan tetapi, Ayub tetap setia kepada Tuhan. Ia sama sekali tidak melakukan kejahatan. Iblis memberi borok pada seluruh tubuh Ayub dari telapak kaki sampai ujung kepalanya. Ia duduk di dekat timbunan sampah dan mengambil pecahan kaca untuk menggaruk-garuk badannya sama seperti yang digambarkan dalam ilustrasi tersebut. Istri Ayub menyuruhnya untuk mengutuki Tuhan, tetapi ia tetap tidak melakukannya.

2.2.15 Ayub Mengutuki Dirinya Sendiri

web

(hal. 124)

            Ayub sama sekali tidak mengutuki Tuhan atas apa yang terjadi pada diri dan hidupnya, tetapi dia mulai mengutuki dirinya sendiri. Teman-teman Ayub datang untuk menguatkannya. Teman-temannya itu menghardiknya agar tidak mengutuki dirinya lagi karena sejatinya Tuhan Yang Mahakuasa akan selalu memelihara hamba-Nya.

2.2.16 Tuhan Berbicara kepada Ayub dalam Badai

web

(hal. 137)

            Tuhan mendatangi Ayub melalui sebuah badai seperti pada ilustrasi di atas. Tuhan berbicara pada Ayub perihal keragu-raguan Ayub terhadap kuasa Tuhan. Ayub sadar akan kesalahannya, lalu bertobat.

2.2.17 Tuhan Memulihkan Ayub

web

(hal. 141)

            Berdasarkan ilustrasi di atas anak sebagai pembaca dapat memahami bahwa Tuhan Yang Mahakuasa sanggup memulihkan keadaan Ayub. Ayub sembuh dari penyakit boroknya. Tuhan membuat Ayub dua kali lipat lebih kaya dari sebelumnya, bahkan Tuhan memberkati Ayub berlimpah-limpah. Tuhan juga memberikan tiga anak perempuan dan tujuh anak laki-laki sebagai ganti anak-anaknya yang mati. Ayub masih hidup serratus empat puluh tahun lamanya dan meninggal dalam usia yang sangat lanjut.

 

3. Kesimpulan

        Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penulisan karya sastra anak harus benar-benar memperhatikan semua aspek yang berkaitan dengan sastra anak. Dalam hal ini aspek yang berkaitan dengan sastra anak diwakili oleh diksi dan ilustrasi. Diksi yang digunakan sesuai dengan usia anak. Ilustrasi yang digunakan berwarna dan menarik. Keduanya dapat membantu menstimulus otak anak untuk dapat mengingat setiap detail cerita dengan lebih baik. Anak memiliki akses yang lebih mudah untuk menggapai dan menjelajahi Alkitab. Selain dapat memperkaya khazanah sastra anak, karya semacam ini dapat mendorong anak untuk mencintai Alkitab, bahkan menjadikannya sebagai pedoman hidup.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia Edisi Kedua. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Gunarsa, Singgih D. dan Yulia Singgih D. Gunarsa. 2008. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Moony. 2010. Bible Mini 3 Moony 1 Tawarikh-Ayub. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Piaget, Jean dan Barber Inhelder. 2000. Psikologi Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sit, Masganti. 2017. Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini. Depok: Penerbit Kencana.

 

Artikel Terkait

Artikel PBL Roda Berporos

Artikel PBL Roda Berporos

Penerapan Model Pembelajaran “Problem Based Learning (PBL)” pada Materi Pesawat Sederhana “Keuntungan Mekanis Roda berporos” Secara Daring

Tambah Komentar

Komentar

Komentar tidak ditemukan